Kasus Sambo: Anomali Vonis Hakim atas Hendra-Agus, Konspirasi Pengadilan Medsos

banner ads

Hakim, seperti juga publik, pun termakan oleh berita medsos sehingga tidak melihat secara jernih perbedaan peran antara Eliezer sebagai pelaku utama dan pendukung skenario FS dalam kasus penembakan brigadir J, dengan peran Hendra-Agus sebagai korban skenario FS dalam kasus obstruction of justice. Padahal disini terdapat perbedaan yang jelas bahwa Hendra-Agus hanya menjalankan perintah karena tugas dan mereka bukakan bagian dari skenario pembunuhan oleh Sambo.

Melodrama persidangan telah menjelma menjadi panggung sandiwara yang memuaskan libido pengguna medsos dan publik serta juga kepuasan pribadi hakim dengan mengorbankan karir dan kehidupan Hendra dan Agus. Persis kelakuan hakim terhadap kasus Ahok yang vonisnya diketok karena tekanan para begundal. Unsur keadilan diabaikan sama sekali. Pun hakim tunduk pada tekanan publik untuk menjadikan Bharada E sebagai pahlawan. Tentu ini menyalahi fungsi pengadilan.

Vonis terhadap Eliezer hanya berdasarkan perasaan dan dukungan medsos, hal ini berbanding terbalik dengan vonis Hendra-Agus, yng tidak mendapatkan dukungan medsos walaupun bukti di persidangan menyatakan bahwa Hendra dan Agus tidak ikut dalam skenario pembunuhan, dan sebagai terdakwa terkait dengan UU ITE yang tak sepenuhnya terbukti.

Maka vonis aneh hakim pun terjadi. Bharada Richard Eliezer yang jelas sebagai eksekutor pembunuhan hanya dihukum ringan sedang Agus dan Hendra sebagai perwira polisi yang jujur dan setia menjalankan tugas harus menanggung hukuman lebih berat dibanding eksekutor pembunuhan. Tentu ini bukan keadilan.

Hakim pengadilan seharusnya tidak terpengaruh oleh melodrama medsos yang dibuat oleh pengacara Bharada E dan tekanan media sosial. Hakim harus mempertimbangkan hal yang meringankan bagi Hendra dan Agus sebagai anggota polri yang telah berjasa bagi negara selama lebih dari 20 tahun, sekaligus kasusnya hanya obstruction of justice dan UU ITE, bukan seperti peran Bharada Eliezer yang menjadi eksekutor pembunuhan. Keadilan bagi Hendra dan Agus harus ditegakkan. Demi menjaga martabat keadilan dan tegaknya pengadilan, menghindari pengadilan sesat yang disebabkan oleh hakim yang tidak jernih dalam menimbang dan memutuskan suatu kasus, selain keadilan bagi Hendra dan Agus. Ingatlah wahai Hakim, putusanmu kelak akan diminta pertanggungjawabannya di dunia dan akhirat !!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *