Catatan Kritis Untuk Ganjar; Capres Boneka Marionette

banner ads

Oleh: Muhammad Maruf, Penulis adalah Kepala Riset CNBC Indonesia.

Marionette adalah boneka dari Eropa yang digerakkan dengan tali dari atas. Orang yang mengoperasikannya disebut manipulator. Biasanya, manipulator tak kelihatan, ada dibalik layar. Di Jawa, ini disebut wayang dan dalang.

Viralmediaindonesia – Saya tidak bisa menemukan kalimat paling tepat untuk bisa merangkum perbedaan kualitas antara Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah dan calon presiden dari PDI Perjuangan dengan Presiden Joko Widodo, sesama kader partai banteng moncong putih. Kecuali seloroh seorang bekas menteri Jokowi. Dia bilang begini dalam sebuah perbincangan beberapa waktu lalu, “Bagusan Jokowi, bagaimanapun dia itu masih punya mimpi, kalau Ganjar, punya mimpi saja tidak,” katanya sambil terbahak. Saya ikut tersenyum, mengangguk-angguk. Saya setuju.

Yang saya tahu, sebelum Partai Nasdem mengumumkan pencalonan Anies Rasyid Baswedan sebagai calon presiden ada semacam kesepakatan tidak tertulisatau gentlemen agreement antar partai bahwa pengganti Jokowi, para capres yang akan bertanding pada 2024 haruslah ketua partai. Terbukti memiliki presiden yang bukan ketua partai dan hanya petugas partai, tetapi memiliki basis ril massa dan die hard di luar kader lebih merepotkan politisi dibalik panggung, karena ia punya massa, popularitas, daya tawar sehingga lebih susah dikendalikan oleh partai penyokong.

Saya tidak bisa mengonfirmasi kebenaran kabar itu, namun sebelum nama Anies didaulat Nasdem pada 3 Oktober lalu, nama yang sayup-sayup muncul adalah ketua partai. Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Golkar, Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra, dan Puan Maharani yang meskipun bukan ketua partai tapi anak Ketua Umum PDI Perjuangan, atau boleh lahdikata putri mahkota. Bahkan, Puan sudah jauh-jauh hari melakukan gerilya politik ke daerah-daerah sejak Juli tahun lalu.

Setelah nama Anies-yang bukan kader partai dan tidak memiliki hubungan darah dengan petinggi partai pengusung-ditetapkan oleh Partai Nasdem, Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera, peta bursa calon presiden langsung buyar. Khususnya di kubu banteng moncong putih yang merupakan satu-satunya partai yang punya tiket untuk mengusung capres. Munculnya Anis-walaupun tidak disukai-sebetulnya menjadi jalan keluar tak terduga bagi Jokowi untuk memuluskan rencananya.

Elektabilitas jeblok Puan, munculnya nama Anies, elektabilitas tinggi Ganjar benar-benar menjadi jalan tol bagi Jokowi untuk menempatkan Megawati dalam situasi sulit, mencapreskan Ganjar dibandingkan putrinya sendiri. Tapi ini tidak mudah, pernah pada September silam ada yang disebut sebagai ‘Dewan Kolonel’, sebuah nama untuk elit PDI Perjuangan di parlemen yang merupakan loyalis Puan untuk maju Pilpres 2024, dan menjegal Ganjar. Bahkan, Ganjar yang sekarang dicalonkan pernah ‘diadili’ oleh partainya sendiri karena dianggap melanggar aturan perintah untuk tidak “kampanye’ keluar Jawa Tengah.

Pada akhirnya, Ganjar tak terbendung walaupun harus melewati berbagai drama. Catatan saya, drama paling besar, saking inginnya Jokowi agar PDIP mengusung Ganjar, adalah preseden seorang presiden menggelar acara relawan Gerakan Nusantara Bersatu di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta Pusat pada November silam. Disitulah Jokowi show force, ingin ‘menekan’ PDIP bahwa dia benar-benar ingin Ganjar menjadi penerusnya dibandingkan Puan.

Dalam bahasa politik, Jokowi ingin menunjukkan kepada Megawati bahwa Ganjar itu memiliki pendukung, meskipun itu lungsuran dari dirinya. “Kalau wajahnya celing , bersih, tidak ada kerutan di wajahnya, hati-hati. Lihat juga rambutnya, kalau rambutnya putih semua, ah ini mikir rakyat ini,” kata Jokowi waktu itu. Tentu saja wajah celingdan bersih bisa ditafsirkan sebagai Puan, sementara rambut putih siapa lagi kalau bukan Ganjar. Sementara ‘wajah berkerut’, adalah untuk Prabowo, dua duanya adalah pilihan Jokowi. (baca: All Jokowi’s Men dan Upaya Sistematis Menjegal Anies)

Tetapi, manipulator atau dalang Ganjar tentu saja bukan hanya Jokowi. Bahkan, bila ia menang kelak, pemegang tali kendali atas Ganjar adalah Megawati. Mengendalikan Ganjar akan jauh lebih mudah bagi Megawati dibandingkan memegang Jokowi, sebab Ganjar tidak memiliki basis ril dan relawan pendukung setia yang bukan kader partai. Pendukung Ganjar adalah limpahan suara dari pendukung Jokowi yang jumlahnya akan lebih sedikit karena sebagian juga ‘ditempatkan’ oleh Jokowi untuk mendukung Prabowo.

Salah satu yang membulatkan keputusan Megawati sebelum memberikan tiket capres kepada Ganjar pada konferensi pers di Istana Batutulis, Bogor, Jawa Barat, Jumat (21/4/2023) adalah polemik hebat nasional satu bulan sebelumnya. Yakni, tiada angin tiada hujan adalah sangat ganjil bagi seorang politisi seperti Ganjar yang sedang mati-matian meraih simpati publik, memiliki elektabilitas capres tertinggi, tiba tiba berlaku seperti party pooper-perusak pesta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *