Catatan Kritis Untuk Ganjar; Capres Boneka Marionette

banner ads

Tidak tanggung-tanggung yang dirusak adalah pesta seluruh pecinta sepakbola, olahraga paling populer di Indonesia. Survei Ipsos mengungkapkan Indonesia memiliki penggemar sepak bola terbesar di dunia dengan persentase angka 69%. Yakni dengan lantang melawan arus mengeluarkan sebuah press release tertulis-kejanggalan kedua yang terbaca dari seorang Ganjar-yang menolak kehadiran timnas sepakbola Israel dalam perhelatan Piala Dunia U 20 yang seyogyanya dihelat di Indonesia pada 20 Mei – 11 Juni 2023.

Salah satu alasannya, “Kita sudah tahu bagaimana komitmen Bung Karno terhadap Palestina, baik yang disuarakan dalam Konferensi Asia-Afrika, Gerakan Non-Blok, dan maupun dalam Conference of the New Emerging Forces.Jadi ya kita ikut amanat beliau,” kata Ganjar dalam keterangan tertulis, Kamis (23/3/2023). Tidak ada satupun publik figur yang berani melakukan itu, termasuk rival Ganjar, Prabowo dan Anies, keduanya diam saja. Ganjar tidak hanya melawan para suporter bola, ia bahkan ‘melawan’ endorser utamanya, Jokowi yang memiliki sikap memisahkan bola dengan politik atas kehadiran timnas Israel.

Saya merasa orang bodoh sekalipun akan menyarankan hal itu tidak selayaknya dilakukan oleh politisi yang sedang beradu meraup simpati masyarakat. Begitu pula, saya yakin Ganjar pasti paham itu adalah sebuah langkah blunder bahkan sebelum menyebar rilis itu kepada media, sebagaimana kemudian banyak orang menilai. Saya rasa Ganjar juga tahu konsekuensi dari pernyataan itu serius, FIFA bisa membatalkan Indonesia sebagai tuan rumah Pildun U 20, sebab Israel adalah anak emas FIFA.

Lantas mengapa Ganjar nekat? Yup, selembar press release itu adalah tes loyalitas terakhir Ganjar kepada PDIP, khususnya kepada cucu Bung Karno. Ganjar ingin menunjukkan bahwa ia adalah petugas partai yang akan mengorbankan apapun, tegak lurus dengan ideologi partai dan mimikri gaya, serta patuh perintah Ketua Umum, dibandingkan Jokowi. Sudah terbukti, Megawati adalah politisi yang berani melawan arus, rela tidak populer demi melakukan sesuatu yang menurutnya benar. Sudah tak terhitung pernyataan melawan arus Megawati, dan dia tampak tak peduli itu merugikan elektabilitas PDIP dan dirinya.

Saya tidak mengatakan Ganjar dipaksa atau terpaksa untuk mengeluarkan rilis itu, namun namanya kemudian memang benar-benar diumumkan Megawati sebagai pilihan PDIP satu bulan setelahnya. Meskipun dari informasi yang ada, Megawati baru memutuskan untuk memberikan penugasan baru bagi Ganjar sebagai capres PDIP satu pekan sebelum acara di Batutulis. Serangkaian peristiwa ini membuktikan, sang presiden kelak, bila ia terpilih, adalah presiden marionette.

Ketar-Ketir Ganjar

Ganjar telah memegang tiket, namun suasana batin di lingkaran utama Ganjar, dan sang capres PDIP menurut orang-orang dekatnya gelisah. Tidak lain tidak bukan, karena hasil survei elektabilitasnya yang tak kunjung membaik seperti sedia kala, menang jauh dari pasangannya. Posisinya yang merosot cukup dalam sejak ‘insiden’ press release soal penolakan timnas Israel di Pildun U 20. Rupanya, tiket pencapresan Ganjar harus dibayar dengan harga yang cukup mahal, kehilangan sejumlah pendukung dan simpatisannya. Padahal sebelum pembatalan Pildun U 20, elektabilitas Ganjar jauh melampaui lawan-lawannya.

Bila Pilpres diadakan sekarang, atau katakanlah dua-tiga bulan lagi saya berkesimpulan Prabowo akan menang. Skenarionya amat mirip dengan drama Pilkada DKI 2017, dimana Prabowo berlaku seperti Anies, Ganjar bernasib seperti Ahok, sementara Anies sekarang merepresentasikan Agus Harimurti Yudhoyono dulu. Skema ini bila diterapkan untuk Pilpres 2024, Anies akan kalah pada putaran pertama, dan pendukungnya berpindah ke Prabowo di putaran kedua, karena bagi pendukung mantan Gubernur DKI ini, apalagi yang hardcore, calon yang mereka pilih asal bukan Ganjar-representasi Jokowi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *