Viral: Warisan UNESCO

banner ads

Gamping tidak mengubah taraf hidup masyarakat. Gamping hanya melestarikan kemiskinan.

Sugiri menghayati semua itu.

Ia menemukan cara baru untuk memanfaatkan gunung gamping itu ke level kehidupan masyarakat yang lebih tinggi.

Gunung gamping itu akan dibentuk bentuk menjadi berbagai fungsi. Salah satunya menjadi patung reog Ponorogo. Yang terbesar dan tertinggi.

Garuda Wisnu pun seperti itu. Gunung di Nusa Dua itu dibelah-belah. Jadi tebing-tebing tinggi yang masif. ”Ruang” di antara tebing itu bisa untuk apa saja. Termasuk untuk jamuan makan malam yang mewah dan elegan. Seperti yang Anda masih akan selalu ingat: para kepala pemerintahan negara-negara kaya anggota G-20 dijamu makan malam oleh Presiden Jokowi di situ.

Dulu gunung gersang di Nusa Dua itu juga tidak ada harganya. Kreativitas manusia bisa mengubahnya jadi salah satu pusat kegiatan G-20 yang prestisius.

Pun di Arizona. Apalagi di Nevada. Kekuatan manusia bisa mengubah padang tandus Nevada jadi Las Vegas yang Anda puja sampai sekarang.

Di Tiongkok juga. Di Dubai pun serupa. Puncaknya: di Arab Saudi. Dengan proyek kota baru Neom-nya.

Maka saya memuji pemikiran Sugiri.

Saya memang orang Magetan. Atau orang Samarinda. Tapi sejak kecil saya sudah akrab dengan budaya Ponorogo. Hampir setiap kali ada kawinan di desa sekitar saya, ada reog Ponorogo. Lengkap dengan jaranannya dan kuda tejinya.

Saya kurang kritis ketika kecil: tidak pernah bertanya apa itu kuda teji dan mengapa disebut kuda teji.

Ketika remaja saya sibuk dengan organisasi pergerakan.

Ketika dewasa sibuk dengan bisnis.

Baru sekarang, ketika menulis Disway ini, saya ingat masa kecil itu. Lalu ingat kuda teji. Yakni kuda yang ikut mengiringi pengantin. Bagian dari atraksi perkawinan. Jalannya kuda itu sangat lucu: seperti lari-lari kecil yang sangat centil.

Pun ketika bertemu Bupati Ponorogo saat ini, Sugiri, saya lupa menanyakannya: apa itu kuda teji dan apakah sekarang masih ada. Atau kuda teji itu justru hanya ada di daerah saya saja.

Lain kali saya tidak akan lupa menanyakan itu kepada beliau kalau bertemu beliau lagi. Atau tetap lupa.

Tentu saya sering ke Ponorogo. Adiknya bapak saya tinggal di Desa Betri, kecamatan Siman. Beliau jadi kiai kampung di Betri. Masjidnya lebih besar dari masjid di kampung saya. Tiap Lebaran, di hari ketiga, saya diajak ke sana: naik kereta api dari Stasiun Sleko di Madiun. Dari desa saya ke Sleko jalan kaki. Satu setengah jam.

Kereta melaju ke selatan. Ke Ponorogo. Masih ke selatan lagi. Turun di Stasiun Siman. Lalu naik andong ke Betri.

Saya pun punya kenakalan anak-anak. Ketika ”minggat” dari rumah, tujuan minggat saya ke Betri. Tanpa punya uang. Saya nunut kereta itu dari dari Stasiun Sleko. Tidak akan dipungut bayaran: masih anak-anak.

Geger. Saya hilang. Dicari ke mana-mana. Sampai ada acara menabuh tampah malam-malam. Keliling desa. Siapa tahu saya disembunyikan oleh hantu. Dengan konvoi memukul tampah itu sang hantu takut. Lalu melepaskan saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *