Tanpa gagasan, politik sekadar menjadi etalase untuk mengunjukkan citra personal para politikus, tanpa pemahaman silang, politik hanya diliputi permusuhan. Negativitas keduanya tidak mungkin dijadikan pijakan untuk mendinamisasi politik. Demi menghindari kemandekan politik, apalagi pengakhirannya, kita membutuhkan elemen-elemen penggerak yang juga mampu menjaga asa.
Strategi antisipasi
Tahapan pemilu telah dimulai sejak Juni dan intensitas tegangan politik berkecenderungan akan meningkat. Berkaca pemilu lalu, pengelolaan perbedaan kepentingan dan pilihan politik dapat menghindarkan kita dari benturan mengeras antarpemilih. Memberdayakan modal sosial sebagai bagian langkah antisipatif, akan membuat kita siap menghadapi tantangan mendatang.
Pertama, kita perlu menegaskan ulang identitas Bhinneka Tunggal Ika sebagai bagian strategi pemeliharaan kohesi sosial. Politisasi identitas untuk memantik kebencian antarkelompok patut dijadikan sebagai musuh bersama sehingga kekuatan politik tidak tertarik untuk menjadikannya sebagai insentif pemenangan pemilu. Selayaknya, pemilu menjadi sarana penguat integrasi bangsa.
Kedua, keterhubungan warga dengan jaringan-jaringan sosial memperkuat daya di antara mereka dan menumbuhkan kepercayaan silang. Manakala pertautan di antara warga menjadi kuat, mereka memiliki posisi tawar lebih baik untuk mengontrol kekuasaan politik, sedangkan ketika kepercayaan silang itu tumbuh, tindakan politik berpotensi untuk mendorong secara efektif perubahan sosial.
Ketiga, generasi baru politik dengan sensitivitas etis mereka semestinya memberi warna dominan. Bukan saja karena dari sisi jumlah kalangan muda akan menjadi yang mayoritas pada pemilu mendatang, melainkan juga karena mereka dibesarkan dan tumbuh di tengah alam demokrasi. Orientasi etis mereka kiranya dapat memberi kontribusi signifikan bagi suatu pemilu yang bebas dan adil.
Keempat, penting bagi segenap warga untuk menemukan isu-isu bersama yang dapat didesakkan sebagai agenda kekuasaan. Dengan kohesivitas dan posisi tawar lebih baik warga, tidak ada dasar bagi elite untuk mengabaikan suara rakyat. Perluasan akses terhadap public goods dapat dijadikan prioritas, selain juga isu-isu lain yang menopang langkah politik bagi perwujudan kebaikan bersama.
Orang tidak perlu terobsesi dengan stabilisasi tatanan sehingga mengorbankan dinamika politik. Tidak pula patut bagi mereka untuk memanfaatkan cara-cara culas dan mendegradasi etika politik sekadar demi kemenangan elektoral. Dengan sejumlah modal di atas, kita memiliki cukup alasan untuk mengempiskan pesimisme dan mengembungkan optimisme menyambut tantangan 2023.
Kesadaran dan orientasi tentang waktu membantu kita untuk memahami persoalan, terutama dalam bingkai kausalitas. Namun, pada akhirnya, dibutuhkan strategi tepat untuk menghadapi tantangan politik. Kita dapat menabung langkah antisipatif yang meskipun tidak dapat menjawab seluruh pertanyaan, membuat kita mampu menulis secara lebih mandiri tentang arah masa depan kita.












