Kami tak pernah mengundang menteri atau siapapun yang berkaitan dengan kekuasaan.
Hanya akademisi dengan kapasitas yang telah diakui publik.
Tak jarang pihak universitas mencoba melakukan intervensi (terlebih setelah ketiadaan Pak Purwoko). Namun kami tak pernah peduli apalagi takut.
Masjid kampus menjadi sarana aktifitas dari soal bantuan kepada masyarakat di. Marunda hingga diskusi soal Tragedi Tanjung Periuk.
Ramadan In Campus menjadi sangat meriah, di setiap sudut Masjid para mahasiswi melakukan tilawah dan disudut lainnya masing-masing koordinator acara melakukan rapat kegiatan yang sedang atau akan berlangsung.
Kini Masjid Kampus sepi, para aktifisnya dicurigai sebagai radikal, islam fanatik anti kebhinekaan dsbnya.
Labeling terhadap islam oleh kaum liberal udik berkelindan dengan kekuasaan yang tak ramah bagi para aktifis Islam, menjauhkan mahasiswa dari nilai-nilai keislaman.
Ironisnya mereka mengatakan sebagai pejuang kebebasan berfikir (Liberal) pembela LGBT dsbnya Namun sambil mengamati siapapun yang berbeda lalu kemudian melaporkan ke aparat untuk dipenjarakan.











