Golkar pasti cari capres yang kuat dan potensial menang. Tampaknya tidak ke PDIP, juga tidak ke Prabowo. Sementara PAN, tidak ada yang lebih aman bagi suaranya kecuali mendukung Anies. Kapan? Setelah Jokowi menyatakan dukungannya ke Anies. Sebab, pilihan realistis bagi Jokowi itu mendukung Anies. Tidak ada yang lebih realistis dari pilihan mendukung Anies.
Bagaimana dengan Prabowo? Tetap sulit maju. Kecuali jika Prabowo legawa terima Cak Imin sebagai cawapres. Konsekuensinya, potensi kekalahannya sangat besar. Prabowo-Cak Imin adalah pasangan yang tidak memberi nilai tambah satu dengan yang lain.
Akhir-akhir ini, santer kabar PKB justru didorong untuk menjajaki koalisi dengan Anies. Para ulama Jatim dan Jateng mendesak Anies-Cak Imin.
Tanpa Cak Imin, besar kemungkinan Prabowo gagal nyapres. Dengan begitu, Prabowo bisa naik kelas menjadi King Maker. Otak yang mendesain kampanye pemenangan capres-cawapres.
Lalu, kemana Gerindra diarahkan jika Prabowo tidak dapat tiket? Ke Anies Baswedan atau ke Puan Maharani? Prabowo pasti akan cari capres yang potensi menangnya lebih besar. Siapa itu? Anies!
Peluang inilah yang dimanfaatkan oleh Surya Paloh, King Maker Anies untuk membujuk Prabowo agar bersama-sama menjadi King Maker Anies (5/3). Bagi Paloh, mendukung Anies adalah pilihan yang paling realistis bagi Prabowo dan juga Gerindra.
Untuk sementara, Prabowo masih enggan. Keputusan politik Prabowo masih bisa berubah. Hanya soal waktu. Sebab, dunia politik tidak ditentukan oleh “like and dislike”. Tapi lebih ditentukan oleh dua hal yaitu kondisi objektif dan kebutuhan objektif.
Itulah sunnatullah yang akan selalu berlaku di sepanjang sejarah.












