By: Agus Hernawan
Viralmediaindonesia – Kekuasaan itu semantikal kelupaan. Aforisme ini tepat menggambarkan tabiat berpolitik pendukung Jokowi. Di mata para Jokower, Anies tak ada baiknya, tak ada prestasinya. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu dinilai hanya cakap tata kata, tapi tak bisa kerja. Mereka lupa. Anies yang cakap bertata kata itu justru jadi daya ungkit elaktabilitas Jokowi.
Mari mundur ke Pilpres 2014. Kala itu, Prabowo adalah sosok ideal untuk seorang presiden. Datang dari “kasta” satria, cerdas dan orator, plus berduit. Satu lagi, Prabowo good-looking di mata emak-emak. Pesona personal ini didukung kekuatan politik. Mayoritas partai politik, berhimpun dalam Koalisi Merah Putih, mendukung Prabowo. Jalan menuju Istana seperti tinggal selenggang.
Tapi, mengapa justru Jokowi yang sampai ke Istana? Jokowi hebat, tidak juga. Keunggulan Jokowi ada pada kontradiksi. Prabowo seperti Akhilles dalam mitologi Yunani. Putra Peleus dan peri Thetis itu memiliki tubuh dewata kecuali pada tumitnya. Prabowo memiliki Achilles hell itu. Satu kelemahan yang bersumber dari masa lalu. Prabowo pernah menjadi bagian keluarga Soeharto. Ini melekat sebagai “identitas”.
Anies Diundang
Prabowo adalah anasir dan bahaya laten Orba. Kekuasaan monolitis yang membangun struktur impotensi, meminjam istilah Herbert Spencer, lewat jalan “darah dan besi panas”. Gambaran tentang Prabowo dan Orba dibangun paralel. Diproduksi dan diresonansi dalam imaji publik untuk satu efek elektoral. Memilih Prabowo berarti memilih kembali ke rezim bertangan besi yang korup dan menindas.
Prabowo dan Jokowi diorkestra dalam kontradiksi. Prabowo yang elit dan patrician. Jokowi yang wong ndeso dan plebeian. Prabowo yang Orba, didukung Golkar, Jokowi sebagai anak kandung Reformasi didukung partai-partai yang lahir di era dan pasca-Reformasi (PDIP, Nasdem, PKB, dan Hanura).
Untuk penegas Jokowi sebagai antitesa Prabowo yang Orba, ikon personal dibutuhkan. Karena itu, di malam tanggal 27 Mei 2014, dari Posko Pemenangan Jalan Sisingamaraja, Jokowi menelepon Anies. “Mohon saya dibantu, Pak Anies,” begitu permintaan Jokowi.
“Saya mengiyakan undangan tersebut sebagai sebuah ikhtiar turun tangan ikut mendorong orang baik mengelola pemerintahan,” ujar Anies kepada awak media menjelaskan alasannya menerima ajakan Jokowi. Anies pun ditunjuk jadi juru bicara Tim Pemenangan Jokowi-JK.
Di Pilres 2014 itu, bukan Luhut, Airlangga atau Erik Tohir, Anieslah yang selalu menempel Jokowi. Dukungan Anies kian menajamkan kontradiksi yang memberi keuntungan elektoral pada Jokowi. Keduanya mewakili pikiran dan rasa generasi pasca-Orba. Keduanya menjadi sahabat. “Sangat dekat. Nyaris 24 jam, Anies menemani Jokowi,“ begitu disampaikan Jusuf Kalla dalam podcast bersama Rocky Gerung.
Anak Panah Paris
Adanya Anies di sisi Jokowi membawa horison harapan pada banyak orang akan era baru kepemimpinan nasional. Keduanya saling melengkapi. Jokowi dengan politik mendengar, Anies dengan kecanggihan orasi. Jokowi yang mengedepankan rasa dan empati, Anies yang berjalan dengan gagasan dan visi. Di paruh pertama Kepemimpinan Jokowi-JK, berbagai gagasan besar diusung. Ada Nawacita, ada Indonesia Poros Maritim Dunia, Revolusi Mental yang semua lahir dari kehendak memenuhi janji kemerdekaan: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.












