Viral: Mohon Saya Dibantu Pak Anies

Mohon Saya Dibantu Pak Anies
Anies baswedan
banner ads

Namun, masuk paruh kedua Jokowi-JK, Anies dikeluarkan dari Kabinet Kerja. Dari situ mulai diternak cerita tentang Anies yang tak cakap kerja. Ternak cerita itu terus dilanjutkan sampai hari ini. Jokowi, di balik impresi kesederhanaannya, melampaui sekedar politisi. Kekuasaan itu ialah bagaimana menggenggam. Segala perlambang dan relasi kuasa dibangun untuk muara ke ndherek karsa dalem (terserah kepada kehendak raja).

Anies itu lurus berpolitik. Buat Jokowi, bisa jadi, Anies cuma alat. Anak panah Paris, Pangeran Troya, yang dilesatkan ke tumit Akhilles. Anies sebagai intelektual publik perlu hadir. Ia merepresentasikan tubuh politik, pandangan dan preferensi politik, juga harapan generasi Reformasi. “…Baswedan played a leading role in the student movements that helped oust Indonesian dictator Suharto,” tulis Majalah Foreign Policy.

Di majalah terbitan Carnegie Endowment for International Peace yang berpusat di Washington itu, Anies masuk dalam daftar 100 Tokoh Intelektual Dunia. Di situ ada nama-nama intelektual yang sudah dikenal luas seperti Noam Chomsky, Francis Fukuyama, Samuel Huntington, Jurgen Habermas, Yusuf Qardhawi, Al Gore, dan Muhammad Yunus. Adanya Anies berarti memenangkan pengakuan, dan tentunya juga dukungan dunia. Sejarah mungkin bisa jadi akan berbeda, sekira Anies ada di kubu Prabowo-Hatta Rajasa.

Mengapa Anies Dibenci?

Pertanyaan: “Mengapa Anies Dibenci?” agaknya terkait dengan kuasa nubuat. Sebuah ramalan tentang pemimpin yang dinantikan. Ada satu peristiwa di Jumat malam, tanggal 5 Februari 2015, lebih kurang satu tahun sebelum Anies “dipecat” Jokowi. Peristiwa apa itu? Saya sajikan di catatan politik berikutnya. Berjudul Anies dalam Kuasa Ramalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *