Oleh karena itu, “kepemimpinan spiritual adalah pemimpin yang sejati dan pemimpin yang sesungguhnya”. Karena seorang pemimpin yang memiliki dimensi spiritual mumpuni akan senantiasa memimpin dengan etika religius yang mampu membentuk karakter, integritas, ketauladanan. Tidak mungkin berjanji palsu atau berbohong pada rakyat atau ummatnya.
Sosok seorang pemimpin spiritual sejati tidak mengandalkan pangkat, kedudukan, jabatan, atau pengaruh keturunannya serta kekuasaan maupun kekayaan. Sebab kepemimpinan spiritualitas mampu menjernihkan rasionalitas dengan hati nuraninya.
Dalam rumusan yang lebih sederhana dan gampang dipahami, semangat GMRI dan Posko Negarawan seperti ghiroh Forum Studi Perdamaian dan Etika Pembangunan besutannya Prof. Dr (HC) K.H. Habib Chirzin (Agama, Pembangunan dan Peradaban hal 34 Tahun 2022) yang sangat memotivasi hasrat belajar dari apa saja dan dari siapa saja, belajar dari tanda-tanda zaman maupun Wahyu, dan belajar dari masyarakat maupun dari buku serta pengalaman orang lain.
Agaknya, demikianlah sosok yang diidolakan dan didambakan oleh GMRI dan Posko Negarawan melakukan safari keliling Nusantara (bukan dalam rangka kampanye Pemilu) tetapi demi untuk menemukan, melahirkan atau mendorong munculnya sosok pemimpin yang mampu mendayagunakan kecerdasan spiritualitasnya dalam membangun bangsa dan negara untuk peradaban baru manusia di bumi.
Banten, 21 Januari 2023






