Viral: Ikut Sendiri

Ikut Sendiri
banner ads

Saya terpaku sendiri. Mereka pun masuk gerbang –tanpa merasa iba. Apalagi merasa bersalah.

”Sudah…dibilang…”.

Mereka pun masuk gerbang Disneyland dengan riang gembira.

Saya hanya bisa berdiri terpaku. Sendirian. Kedinginan.

Suasananya mirip para pemain West Ham yang riang gembira meninggalkan penjaga gawang Arsenal yang sedih kemasukan dua gol tanpa balas pekan lalu.

Setelah mereka hilang dari pandangan saya sadar dari lamunan. Saya pun harus memutuskan untuk kembali ke kota.

Saya tersadar lagi: tidak ada uang di kantong. Kasirnya sudah tidak tampak –mungkin mereka sudah bersuka ria sarapan di salah satu resto di dalam sana.

Sendiri.

Tanpa uang.

Belum sarapan.

”Di mana ada kemauan tidak selalu ada jalan”.

Ada. Ada jalan. Yakni jalan memutar. Jalan balik ke kota. Jalan kaki. Apa hendak dikata.

”Di mana ada kemauan di situ ada jalan”.

Saya kini punya mau kembali ke hotel. Pun seandainya tidak mau, toh harus kembali ke hotel.

Ups…ada jalan!

Ada satu orang yang iba pada saya. Orang baru. Anak muda.

Orang itu baru saja saya kenal beberapa menit yang lalu. Ketika kami di kereta bawah tanah ia duduk di seberang saya –agak ke kiri jauh.

Beberapa kali ia seperti menyapukan pandangan ke wajah saya. Sesapuan. Beberapa kali. Sesekali sapuannya kepergok mata saya. Diam. Menyapu lagi. Diam.

Ketika kami turun dari kereta, ia mendatangi saya. Setengah tidak percaya, ia menyebut nama saya. Dengan tanda tanya. Kami pun bersalaman.

Itulah dewa penolong saya hari itu. Bukan cucu. Bukan anak. Bukan istri.

Ia orang yang baru saya kenal.

Saya pun kembali percaya dengan prinsip berikut: ”di dunia ini, di mana-mana, selalu ada orang baik”.

Ia anak Indonesia yang hebat –明天见(Dahlan Iskan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *