Belakangan hari pers Jerman telah mengekspose pengakuan keterlibatan dinas rahasia Jerman Bundesnachrichtendisenst, disingkat BND, di antaranya menugaskan kol. O.G. Roeder, yang kemudian menulis riwayat Soeharto “The Smiling Generale”
Mantan Direktur BND Reinhard Gehlen, yang memimpin BND dari 1956 sampai 1968, dalam sebuah wawancara televisi tahuny 1996 menanggapi kudeta politik di Indonesia tahun 1965/66 dengan komentar: “Keberhasilan Angkatan Darat Indonesia, yang melaksanakan penumpasan seluruh Partai Komunis dengan segala konsekuensi dan kekerasan, menurut keyakinan saya punya peran yang tidak terkatakan pentingnya.”
Keterlibatan Inggris tersebut juga ditulis The Guardian, yang dijelaskan bahwa pejabat Inggris diam-diam membuat propaganda hitam untuk mendesak orang di Indonesia menghancurkan komunis.
Andrew Gilchrist, seorang agen Special Operations Executive, menjabat sebagai Duta Besar Britania Raya untuk Indonesia di Jakarta (1962–1966). Namanya dia ini terekam pada dokumen Gilchrist yang boleh dikata fondasi operasi intelligent asing berikutnya hingga terjadi G39S.
The Guardian menjelaskan adanya kantor intelijen Inggris di Singapura yang digunakan sebagai pusat operasi di Indonesia.
Selain itu, Inggris juga memberikan bantuan penyadapan pesan suara yang dapat digunakan oleh orang-orang anti-komunis dalam membaca dan mencegat komunikasi pemerintah Indonesia.
Dalam situs Affair Internasional, asisten peneliti Monash University di Australia, Millot membuka tulisannya dengan dokumen di Badan Arsip Nasional Australia yang menyatakan bahwa Kedutaan Besar Australia dan Departemen Luar Negeri saat itu berkaitan erat dengan militer Indonesia. Mereka menawarkan dukungan untuk menggulingkan Sukarno dan menyingkirkan PKI.
Sama terhadap pemerintah AS, dunia patut menuntut pertanggungjawaban pemerintah Inggris, Jerman dan Australia, dalam forum Pengadilan Internasional atas kejahatan negara-negara itu terlibat dengan berbagai cara dalam G30S dan peristiwa turunannya di Indonesia.
Lembaga-lembaga independen di Indonesia diantaranya parpol, ormas, LSM, paguyuban atau organisasi keagamaan, dll di Indonesia karena berakal sehat dan mengajak lembaga sejenis di berbagai negara lain, tertantang serentak mendesak Pengadilan Internasional menyelenggarakan forum sidang mengadili pemerintah negara-negara asing yang berperan terlibat dalam G30S dan dalam peristiwa yang terjadi kemudiannya, yang penyebabnya selama ini misterius. Forum pengadilan itu tidak diniatkan balas dendam atau kebencian melainkan supaya para penguasa pengambil keputusan politik pemerintahan itu berakal- pikir sehat menanggalkan konspirasi sombong jahat terhadap negara lebih lemah atau yang sengaja dilemahkan. Penyebab yang misterius sebelumnya akan diketahui masyarakat internasional sehingga dapat mencegah hal sama, (agar) tidak terulang lagi.
Bekasi 26.01.2023.








