Cendekiawan dan Komunitas Publik Indonesia Alami Defisit Nalar Etis dan Ilmiah

banner ads

Viral Media Indonesia |℅JAKARTA | KBA — Cendekiawan dan penulis berbagai buku tentang ideologi Pancasila, Prof. Dr. Yudi Latif, mengatakan problem utama kaum cendekiawan dan komunitas publik saat ini di Indonesia adalah defisit nalar etis dan nalar ilmiah. Padahal kedua hal ini harus dilakukan bila ingin mencari role model bagi kehidupan bangsa agar dapat kembali ke jalan kebenaran dan kebajikan.

“Soal ini dahulu pernah dikatakan oleh mendiang Nurcholish Madjid (Cak Nur) yang merupakan salah seorang figur intelektual publik yang bisa dijadikan pusat teladan. Karya-karyanya banyak mengusung tema etika dan budaya ilmiah dan dalam perilakunya menjelmakan diri sebagai man of ideas dan man of ethics,’’ kata Yudi Latif, ketika memberikan orasi budaya di PDS HB Yasin yang diikuti KBA News, Jumat sore, 9 Oktober 2029.

BeritaLainnya
Konkordat Worms 1122 M dan Sekularisasi Kekuasaan Eropa pada Abad Pertengahan
Romantis! Pasutri Sukses Wisuda Doktor Bersama di ITS
Raih Gelar Sarjana di Usia 19 Tahun, Hasna Jadi Wisudawan Termuda ITS
Jika Gibran Punya Rasa Malu, Mestinya dengan Sukarela Mundur
Kesalahan Sebuah System, Satu Orang Dikambinghitamkan
Di dalam orasinya yang berjudul ‘Etika di Tengah Turbulensi Politik: Belajar dari Pengalaman Indonesia’, Yudi mengawalinya dengan menyinggung relevansi etika di era digital. Dia kemudian membahas etika ini dari pernyataan Elon Musk dalam wawancara dengan The Economist.

“Menurut Elon Musk, dalam lima tahun mendatang, AI akan mengatasi kecerdasan seluruh manusia. Dan, dalam 10 tahun ke depan, hampir semua pekerjaan akan digantikan oleh robot humanoid. Kalau begitu, apa yang tersisa bagi manusia?” ujarnya.

Selain itu, menurut Ellon Musk juga mengatakan meski terjadi penetrasi AI, Humanoid, dan digital, yang masih bisa tetap pada kurun 10 tahun ke depan adalah adanya etika, kenangan pengalaman hidup manusia, relasi sosial, serta tujuan, dan makna kehidupan. “Pada masa ketika segala sesuatu bisa didigitalisasi, justru hal-hal yang tidak bisa didigitalisasi akan lebih penting. Apa yang tidak bisa didigitalisasi itu adalah seperti yang telah disebutkan oleh Elon Musk. Hal itu merupakan elemen konstanta yang terus menjadi urusan dan esensi kemanusiaan di zaman apa pun.”

Untuk itu, guna membahas mengapa etika itu akan tetap penting bagi kehidupan, manusia semuanya harus berangkat dari pertanyaan: apa sebenarnya tujuan penciptaan semesta ini? “Dalam soal ini sains tidak bisa menjawab, agama tidak bisa menjawab, filsafat tidak bisa tuntas memberikan jawaban.”

“Bahkan, semakin jauh kita mencoba mencari penjelasan terhadap pertanyaan tadi, semakin bertambah ketidaktahuan kita tentang hal itu. Kita akan sadar bahwa akal itu memiliki keterbatasan,” kata Yudi.

Keterbatasan teisme dan ateisme

Yudi kemudian menyatakan, selanjutnya, mari dicoba melihatnya dari perspektif sains. Ini karena sains selalu bicara atas dasar fakta empiris. Dan kalau disebutkan tentang tujuan penciptaan, maka harus ada intensi. Intensi itu mensyaratkan adanya sesuatu yang punya intensi.

“Namun, masalahnya, bagaimana kita bisa menyatakan adanya sesuatu terhadap sesuatu yang tidak ada? Keberadaan sesuatu membutuhkan kehadiran ruang dan waktu. Dan itu baru terjadi setelah peristiwa Big Bang. Pada suatu titik, ada sesuatu yang begitu padat dan panas. Lalu sesuatu itu meledak menjadi uap, yang berisi partikel-partikel kimiawi. Begitu partikel itu muncul, terbentuklah ruang dan waktu,’’ ungkapnya.

“Ketika partikel-partikel itu bersenyawa dengan molekul-molekul lainnya, lahirlah bintang dan benda-benda langit lainnya. Sebelum peristiwa Big Bang, yang disebut Einstein sebagai momen singularitas ruang waktu, sains tidak bisa menunjukkan adanya sesuatu. Maka, banyak saintis yang kemudian menjadi ateis. Bahwa alam semesta ini ada bukan karena adanya kehendak sesuatu, melainkan ada dengan sendirinya karena hukum alam itu sendiri,” katanya.

Kritik terhadap posisi sains itu pertama kali datang dari perspektif teisme. Bahwa keberadaan alam semesta dengan segala unsur dan makhluknya itu adalah fakta. Artinya, fakta-fakta hidup itu menyiratkan adanya sesuatu di balik fakta itu. Lagi pula,ketidaktampakan sesuatu bukan berarti ketiadaan. “

“Mungkin ada dimensi kegaiban yang tak memerlukan ruang dan waktu. Kalau saya harus memilih antara posisi teisme dan ateisme, saya cenderung memilih teisme. Dengan keyakinan ini, kita masih memiliki harapan. Bahwa hidup ini tidak sia-sia. Dan, kalau ternyata tersingkap adanya sesuatu di balik realitas, orang-orang teis sudah menyiapkan sekocinya dengan amal kebajikan di dunia ini. Adapun keyakinan ateisme bisa terseret pada nihilisme,” tegasnya.

Kritik terhadap teis dan ateis

Selanjutnya Yudi menyatakan, namun, keyakinan teisme itu juga tidak bisa lolos dari kekurangan. Para pengikut ateisme mengajukan pertanyaan serius. Mengapa sesuatu itu mesti ada dan bagaimana cara

mengadanya.

”Pengikutnya ateisme kemudian bertanya: Sebelum peristiwa Big Bang, Tuhan melakukan apa saja? Dalam dunia sufi, dikatakan bahwa Tuhan mengalami kesepian. Karena ingin dikenali, Tuhan menciptakan alam semesta sebagai tajalli,’’ ujarnya.

Maka, dihadapkan pada kebuntuan nalar teisme dan ateisme, muncullah pemikiran agnostik. “Orang agnostik seperti Albert Einstein percaya di balik tertib semesta itu ada semacam rancangan intelligent design. Namun, intelligence design itu tak seperti yang dianut oleh agama-agama. Seorang agnostik percaya pada ketuhanan, tetapi tidak percaya pada banyak doktrin agama.”

Kemudian disusul oleh perspektif deisme. Menurut paham ini, Tuhan itu tidak langsung menciptakan alam semesta ini secara utuh, tetapi melalui hukum alam yang kemudian menggelinding sendiri menjadi alam semesta. Varian dari pemikiran deisme ini melahirkan semacam teori fine-tuning dan sejenisnya. “Bahwa tertib kosmos dengan segala kejadiannya itu bukan karena kebetulan, melainkan telah terantisipasi sebelumnya dengan hukum-hukum alam yang diciptakan oleh semacam intelligence design.”

Namun, terhadap pemikiran itu, agama-agama Abrahamik keberatan. Tuhan itu tak pernah istirahat, melainkan terus bekerja, tak berhenti sebatas rancangan. Di atas landasan keberlanjutan yang bersifat diakronik, Tuhan masih bisa melakukan pembelokan sesaat secara sinkronik. Karena itu, bisa saja rancangan awal itu mengalami penyesuaian karena mengikuti irama kehidupan.

“Lalu, datang ajaran Islam dan Kristen yang dengan bahasa yang berbeda mengatakan bahwa tujuan penciptaan itu sebenarnya ada, yaitu untuk beribadah kepada Allah,’’ ujarnya.

Pentingnya etika

Dalam pembahasan berikutnya, Yudi kemudian memberikan perhatian khusus pada etika yang memberi landasan terhadap nilai.

“Landasan etika memberi makna dan arah bagi kehidupan, sedangkan sains dan teknologi memberi landasan bagi kemajuan. Kehidupan manusia tak memiliki makna tanpa etika. Seperti pohon tanpa akar. Dalam kegelapan mengenai tujuan penciptaan semesta, karena tak mampu menjawab mengenai tujuan penciptaan, muncul pertanyaan, kata Yudi.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh manusia? Menurut Yudi, jawabannya adalah bahwa agar kehidupan di bumi ini tak terasa sebagai sesuatu yang sia-sia, manusia harus menciptakan sistem maknanya sendiri. Dalam sistem makna yang diciptakan manusia itu, yang terpenting bagi manusia adalah bagaimana agar bisa menjalani kehidupan yang bahagia.

“Untuk bahagia, kita harus berusaha menghindari peperangan, penindasan, keserakahan, dan kesengsaraan. Maka, menurut Epicurus, ajaran apa pun (agama, filsafat, dan norma) tidak memiliki dasar legitimasi tanpa sanggup menjamin kebahagiaan. Tanpa integritas etis, manusia akan mengalami distrust,” katanya.

Alhasil, etika itu seperti semen perekat bagi bangunan sosial kenegaraan. Tanpa trust, kehidupan majemuk akan mengalami ketidakpercayaan dan kekacauan. Itulah yang terjadi di Indonesia saat ini.

“Di negeri Indonesia ini, rutinitas hidup masyarakat cenderung membenarkan yang biasa ketimbang membiasakan yang benar (a false sense of normalcy). Korupsi dianggap kelaziman. Politik uang sebagai kewajaran. Nepotisme sebagai privilese. Pemilu mahal sebagai ketakterelakan. Kekuasaan (fasilitas) negara dipandang sebagai milik pribadi. Normalitas penyimpangan ini menguat seiring dengan merebaknya tujuh dosa sosial yang disebut Mohandas K. Gandhi: politik tanpa prinsip, kekayaan tanpa kerja keras, tanpa moralitas, kesenangan tanpa nurani, pendidikan tanpa karakter, sains tanpa humanitas, dan peribadatan tanpa pengorbanan,” ungkapnya.

Pada akhirnya, kehidupan kota/negara (polis) terjerumus ke dalam apa yang disebut Machiavelli sebagai “kota korup” (città corruttissima), atau yang disebut Al-Farabi sebagai “kota jahiliyah” (almudun al-jahiliyyah). “Di republik korup dan jahil, persahabatan madani sejati hancur. Warga dan elit penguasa berlomba mengkhianati sesama dan negaranya; rasa saling percaya lenyap karena sumpah dan keimanan disalahgunakan.”

“Hukum dan institusi lumpuh tak mampu meredam perluasan korupsi. Ketamakan dan hasrat meraih kehormatan rendah merajalela. Akhirnya timbul kematian dan pengasingan: kebaikan dimusuhi, kejahatan diagungkan. Praktik politik di negeri ini telah direduksi sekadar menjadi perjuangan kuasa (demi kuasa) ketimbang sebagai proses pencapaian kebajikan bersama. Politik dan etika terpisah seperti air dan minyak. Kebajikan dasar republik seperti keadaban, responsibilitas, keadilan, dan integritas runtuh,’’ tandas Dr. Yudi Latif. (kba)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *