Viral: Kodok Pasuruan

Gus Ipul bersama para pejabat Pemkot Pasuruan dan Dahlan Iskan membuka Elingpiade dengan memainkan kitiran.--


Penggagas acara ini adalah Irfandi dan Ridho Saiful. Berkolaborasi dengan Harian Disway dan Pemkot Pasuruan.

Irfandi pendiri gerakan ”Lali Gadget”. Asal Mojokerto. Ia mendirikan kampung mainan di desanya.

Tujuannya: agar anak bisa meninggalkan gadget biar pun sesaat.

Di Kampung Lali Gadget itu disediakan banyak mainan tradisional. Juga diajari cara bermain. Lali artinya lupa. Saya pun sudah banyak yang lupa permainan masa kecil.

Misalnya ketika para siswa di Pasuruan itu diminta membuat lingkaran-lingkaran kecil. Satu lingkaran lima siswa. Mereka lalu diminta menghadap ke luar lingkaran. Lima siswa itu diminta mengaitkan kaki-kaki mereka yang ditekuk ke belakang. Lalu, dengan satu kaki, mereka berloncat-loncat sambil melakukan gerakan berputar.

Serunya bukan main. Penuh gelak tawa. Penuh kebersamaan. Kalau mereka egois lingkaran itu bubar. Kalah.

Gadget membuat anak individualis. Mainan lama ini membuat anak bekerja sama.

Sekolah yang mengirim grup dolanan ke Elingpiade diwajibkan membawa sarung.

Ada 12 permainan yang menggunakan sarung. Salah satunya tidak pernah saya lakukan di masa kecil: sarung sebagai kapal. Dengan sarung itu mereka seolah sedang di atas sebuah kapal. Lalu berlomba mencapai finis dengan berjalan seolah sedang terayun ombak. Mungkin ini asalnya dari anak-anak di daerah pesisir. Saya dari pedalaman. Kali pertama melihat laut setelah tamat Aliyah (SMA). Sekali melihat langsung mengarunginya: merantau ke Samarinda.

Lalu Elingpiade ini mengingatkan saya ke ”kodok sarung” tadi. Nama permainannya estafet kodok. Sudah 60 tahun saya tidak melihat permainan ini.

Tapi begitu melihat mereka mengubah sarung menjadi kodok, saya pun langsung bisa melakukannya: sarung dihampar di lantai, digulung dari dua sisinya. Gulungan dari kiri dan kanan bertemu di tengah. Lalu dilipat dua. Empat buncu sarung pun ditarik. Jadilah kodok-kodokan. Semacam kodok yang besar berkaki empat.

Zaman itu bentuk tersebut seperti kodok beneran: dalam imajinasi. Imaji anak-anak memang harus dibangun. Agar bisa memiliki kemampuan membayangkan apa saja. Termasuk membayangkan masa depan mereka.

Permainan yang berbentuk sesuai dengan aslinya membuat pikiran anak menjadi dangkal. Ia seperti orang membaca pamlet. Tidak dalam seperti membaca puisi.

Setelah kodoknya jadi, siswa diminta berbaris. Satu SD satu baris. Tiap baris 10 siswa.

Siswa yang paling depan membawa kodok itu. Yang di belakangnya merunduk memegang pantat yang di depannya. Jadilah seperti ular panjang.

SD yang lain melakukan hal yang sama di barisan sebelahnya.

Mereka berlomba. SD mana yang juara.

Setelah peluit berbunyi, yang paling depan itu menyerahkan kodok ke siswa di belakangnya. Cara menyerahkannya harus lewat selangkangan. Sambil agak menungging.

Begitu berhasil menyerahkan kodok itu, ia lari ke paling belakang. Menempel di temannya yang paling belakang.

Begitulah kodok secara estafet diserahkan lewat selangkangan ke siswa di belakangnya. Yang paling cepat mencapai finis merekalah juaranya.

Salah satu permainan tradisional di Elingpiade.–

Mainan apa yang paling diminati di kampung Lali Gadget?

“Egrang,” ujar Irfandi.

Exit mobile version