Angga pun menilai bahwa hal tersebut yang dikatakannya sebagai tayangan eksploitasi kemiskinan itu sudah lama terjadi. Ia menjelaskan bahwa eksploitasi kemiskinan bisa dilihat dari konten televisi hingga yang saat ini tengah terjadi di TikTok.
“Tayangan eksploitasi kemiskinan ini sudah sering kali muncul dan penontonnya banyak. Dimulai dari konten yang ada di televisi kemudian praktik semacam ini dibawa ke platform lain seperti Tiktok,” ujarnya.
“Tujuannya tentu untuk mendapat popularitas dan bersaing dengan penghasil konten lain. Di mana popularitas ini bisa menghasilkan uang. Mau tidak mau praktik eksploitasi kemiskinan semacam ini diakui bisa menarik perhatian orang banyak,” ucapnya menambahkan.
Lebih lanjut, Angga menilai bahwa perlombaan untuk menarik perhatian masyarakat itu justru dapat membuat sang pembuat konten di media sosial menjadi lupa akan nilai moral dan etika yang seharusnya dijunjung. Angga pun beranggapan bahwa praktik sejenis itu bisa menjadi lebih ekstrem untuk menarik perhatian masyarakat.***
