Sejak itulah Indonesia tergantung pada negara sesama bebas PMK. Khususnya Australia.
Di awal orde baru negara-negara barat memang membiayai program bebas PMK itu. Laboratorium penyakit hewan dibangun sangat besar dan modern: Veterinaria.
Di luar kota Surabaya. Di Wonocolo. Hanya sepelemparan batu dari rumah saya. Di situlah diproduksi vaksin anti PMK untuk sapi. Besar-besaran. Berhasil. Sukses.
Runtuhnya Orde Baru membuat kontrol pada hewan juga melemah. Rakyat menguat di mata negara, negara melemah di mata rakyat. Juga di mata sapi.
Menurut ahli virus yang dekat dengan Disway, drh Indro Cahyono, diam-diam PMK masuk lagi ke Indonesia. Sejak 20-an tahun lalu.
Indro, sebagai peneliti muda saat itu, menemukannya. Indro dibantah. Dihujat. Dikucilkan. Karir kepegawaiannya seret. Lalu berhenti berkarier sebagai pegawai negeri. Ia jadi peneliti independen sepenuhnya.
Hampir bersamaan dengan datangnya Covid, PMK pun meledak di Indonesia. Terutama di Jawa, Sumatera Tengah, dan Sulawesi Tengah. Puncaknya dua tiga tahun lalu.
Menurut drh Indro sampai sekarang pun PMK masih ada. Memang seperti sudah reda. Vaksinasi sudah meluas. Peternak juga makin pintar. Tapi PMK tidak mungkin hilang sepenuhnya. Kecuali dilakukan lagi tindakan seperti Orde Baru melakukannya. Itu pun belum tentu berhasil.
Sekarang, ibaratnya, sapi pun sudah mengerti demokrasi. (Dahlan Iskan)
