Di lain sisi, Suhajar menambahkan, era revolusi industri 4.0 atau revolusi digital berbasis internet yang kini berkembang telah mempengaruhi pola pengasuhan anak. Menurut penelitian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Suhajar menyebut rata-rata anak Indonesia menggunakan gadget mencapai lima jam per hari. Selain itu, 19,3 persen anak Indonesia menderita kecanduan gadget sehingga harus diwaspadai.
“Hari ini penyakit anak-anak pun berbeda dengan penyakit dulu, dengan seringnya dia bersama gadgetnya itu hari ini ada satu persoalan penyakit baru di tengah kita, yaitu persoalan anak-anak mengalami kesepian dan tingkat individualistis meningkat. Karena itu, memang kita perlu memikirkan anak-anak kita itu untuk kegiatan Pramuka, kegiatan seni, dan sebagainya supaya individualistisnya jangan terlalu dominan,” jelasnya.
Pasalnya, kata Suhajar, berdasarkan survei budaya individualisme sudah terbukti meningkatkan kesepian dan depresi. Kurangnya interaksi sosial dalam keluarga dan masyarakat menjadi penyakit baru yang harus diatasi bersama. Kondisi ini sekaligus menjadi tantangan baru bagi DWP Kemendagri.
“Peran wanita dalam menentukan baik buruknya peradaban suatu negara terletak pada peran pentingnya mendidik generasi mudanya di rumah, karena kalau nanti di rumah tidak terkelola dengan baik ini juga menjadi masalah besar bagi kita semua,” tandasnya.
