Sedangkan advokat senior yang akrab disapa Gus Yasin menegaskan, umat Islam jangan dicap intoleran. Jangan kalau Islam pasti intoleran. Radikalisme itu ada di semua agama. Jangan cuma Islam yang disudutkan.
“Mereka sengaja merusak nama baik Islam. Kalau mereka gak (tidak) butuh dukungan umat Islam, tidak usah menuduh Islam intoleran. Ini menyakitkan,” tegasnya.
“Kami urunan untuk bantu kampanyenya, bahkan jiwa relawan terancam. Ada yang masuk penjara. Apa mereka peduli? Tidak. Buktinya mereka (relawan) sakit-sakit sendiri, dia tega dan enak jadi menteri,” tegasnya.
Gus Yasien juga menyebut pengorbanan Habib Rizieq Syihab (HRS). “Beliau kawal Pak Prabowo sampai babak belur. Risikonya sangat berat. Enam (6) syuhada FPI, pengawal HRS, disiksa dan ditembak mati. Kalau itu kemudian (kata Grace) Prabowo menyesal, maka kami pun menyesal dukung dia,” terangnya.
Publik tentu masih belum lupa bagaimana menjelang penyelenggaraan Pilpres 2019 Prabowo begitu gencarnya mencari dukungan dari umat Islam. Bukankah dia sempat mendatangi Habib Rizieq Syihab (HRS) di Mekah, Arab Saudi, Sabtu (2/6/2018)? Bukankah semua orang juga tahu bahwa saat itu HRS sedang dalam pengungsian di Arab Saudi dan mendapatkan rintangan yang tidak sedikit dari kaki tangan pemerintah untuk pulang ke tanah air? Dan bukankah Prabowo sengaja mengunjunginya, mengadakan pertemuan dengannya bersama Amien Rais, guna mendapatkan dukungan dari lingkaran pengikut HRS, seperti dibenarkan oleh Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) Drajad H. Wibowo?
Karena itu, jika benar Prabowo menyesal pernah dekat dengan kalangan muslim yang dituding intoleran, tentu sangat keterlaluan. Sehingga cukup beralasan anggapan sebagian orang yang menyebut Prabowo itu tidak jelas agamanya. Masih banyak berita yang simpang siur tentang hal itu. Ada yang mengatakan dirinya muslim setelah jadi mualaf. Ada pula yang mengatakan dirinya muslim sejak kecil, bahkan ada yang mengatakan dirinya masih non-muslim.
Apa pun agama yang dianut Prabowo, tentu dirinya sendirilah yang lebih tahu. Tapi, jika ditelusuri dari keturunan dan keluarganya, Prabowo berasal dari keluarga yang mayoritas non-muslim. Karena dibesarkan di tangan ibundanya yang Katholik, maka tidak menutup kemungkinan dirinya mendapatkan sentuhan-sentuhan rohani Katholik. Apalagi bila dilihat dari masa lalunya yang sering berpindah-pindah di sejumlah negara yang bukan negara Islam.
Umat Islam tampaknya perlu sadar diri dan berhati-hati dalam memilih seorang pemimpin. Dalam haditsnya, Rasulullah Saw. pernah mewanti-wanti agar muslim tidak memilih pemimpin yang lemah. Sebagaimana terungkap dalam sebuah hadist Nabi yang berbunyi: “Wahai Abu Dzar! Kamu ini lemah (untuk memegang jabatan), padahal jabatan itu adalah amanah. Pada hari kiamat ia adalah kehinaan dan penyesalan. Kecuali bagi siapa yang mengambilnya dengan benar dan melaksanakan tugas dengan baik.” (HR Muslim)(*)
