Viral Media Indonesia | TOKYO – Kisah Sogen Kato, pria asal Jepang yang tercatat sebagai salah satu laki-laki tertua di Tokyo pada 2010, mengejutkan publik setelah polisi menemukan fakta bahwa ia sebenarnya telah meninggal dunia puluhan tahun sebelumnya.
Lahir pada 22 Juli 1899, Kato secara resmi tercatat berusia 111 tahun pada musim panas 2010. Namun, di balik statusnya sebagai lansia yang masih hidup, tersimpan fakta mengejutkan yang baru terungkap ketika aparat mendatangi rumah keluarganya.
Peristiwa ini bermula ketika pejabat setempat berusaha mengunjungi Kato menjelang Hari Penghormatan kepada Lansia di Jepang, sebuah peringatan nasional untuk menghormati warga lanjut usia.
Alih-alih mempertemukan petugas dengan Kato, keluarganya berulang kali menolak kunjungan tersebut dengan berbagai alasan.
Keluarga Berulang Kali Menolak Kunjungan Petugas
Menurut keterangan yang diberitakan saat itu, keluarga Kato sempat mengatakan bahwa pria tersebut hanya terbaring tanpa mampu beraktivitas. Mereka juga menyampaikan cerita bahwa Kato mengasingkan diri untuk menjalani praktik sokushinbutsu, yakni praktik asketisme ekstrem dalam tradisi Buddha Jepang yang dikaitkan dengan mumifikasi diri.
Penjelasan tersebut membuat keberadaan Kato semakin sulit dipastikan. Selama bertahun-tahun, tidak ada kunjungan langsung yang berhasil memastikan kondisi sebenarnya dari pria yang tercatat berusia lebih dari satu abad itu.
Hingga akhirnya, pada 27 Juli 2010, lima hari setelah ulang tahunnya yang ke-111, polisi mendatangi kediaman keluarga Kato dan memasuki rumah untuk memeriksa keberadaannya.
Di dalam kamar di lantai pertama, petugas menemukan jasad Kato di atas tempat tidur. Tubuhnya berada di balik pakaian tidur dan selimut, dalam kondisi yang telah mengalami mumifikasi.
Temuan itu sekaligus membongkar kenyataan bahwa Kato tidak lagi hidup sebagaimana yang tercatat dalam administrasi kependudukan.
Jasad Diperkirakan Telah Berada di Kamar Selama Puluhan Tahun
Kondisi kamar memberikan petunjuk penting bagi penyelidik. Sejumlah surat kabar yang ditemukan di ruangan tersebut diketahui berasal dari 1978.
Berdasarkan temuan itu, penyidik memperkirakan Kato telah meninggal sekitar periode tersebut, ketika usianya diperkirakan 79 tahun. Artinya, jasadnya kemungkinan berada di kamar itu selama lebih dari tiga dekade sebelum ditemukan.
Dalam keterangan yang disampaikan kepada polisi, cucu perempuan Kato mengatakan bahwa kakeknya telah mengunci diri di kamar sekitar 32 tahun sebelumnya. Ia juga menyebut ibunya meminta agar Kato tidak diganggu.
Informasi tersebut menjadi bagian dari penyelidikan untuk mengetahui bagaimana kematian Kato tidak pernah dilaporkan kepada pihak berwenang selama bertahun-tahun.
Kasus ini kemudian menarik perhatian luas karena memperlihatkan bagaimana seseorang dapat tetap tercatat hidup dalam administrasi resmi meskipun kenyataannya telah meninggal dunia.
Pensiun Janda Terus Masuk ke Rekening Kato
Penyelidikan tidak berhenti pada penemuan jasad. Aparat juga menelusuri aliran uang yang masuk ke rekening Kato setelah kematiannya.
Persoalan keuangan itu berkaitan dengan pensiun yang diterima setelah istrinya meninggal dunia pada 2004 dalam usia 101 tahun. Dana pensiun tersebut dilaporkan terus masuk ke rekening atas nama Kato.
Selama sekitar enam tahun berikutnya, total dana yang disetorkan mencapai kurang lebih 9,45 juta yen, atau sekitar 110.000 dolar AS berdasarkan perkiraan nilai tukar yang diberitakan saat itu.
Dari jumlah tersebut, sekitar 6 juta yen atau setara dengan 70.000 dolar AS dilaporkan telah ditarik sebelum polisi menemukan jasad Kato.
Aliran dana tersebut memunculkan dugaan bahwa kematian Kato sengaja tidak dilaporkan agar pembayaran pensiun tetap berlangsung.
Anak dan Cucu Perempuan Berurusan dengan Hukum
Kasus ini berujung pada penangkapan putri Kato yang berusia 81 tahun dan cucu perempuannya yang berusia 53 tahun atas dugaan penipuan terkait penerimaan dana pensiun.
Menurut laporan mengenai perkara tersebut, sang cucu kemudian mengembalikan uang yang diterimanya dan memperoleh hukuman percobaan.
Kasus itu menjadi sorotan karena melibatkan bukan hanya persoalan keluarga, tetapi juga penyalahgunaan sistem administrasi dan pembayaran manfaat sosial bagi warga lanjut usia.
Peristiwa tersebut turut memunculkan pertanyaan mengenai mekanisme verifikasi keberadaan penerima pensiun, terutama bagi warga yang berusia sangat lanjut dan jarang ditemui secara langsung.
Pelajaran dari Kasus Lansia yang Tak Tercatat Meninggal
Kisah Sogen Kato menunjukkan bahwa catatan administratif tidak selalu mencerminkan keadaan sebenarnya. Ketika keberadaan seseorang tidak dapat dipastikan dalam waktu lama, pemeriksaan langsung dan verifikasi data menjadi penting untuk mencegah penyimpangan.
Kasus ini juga mengingatkan bahwa sistem perlindungan sosial membutuhkan pengawasan yang memadai agar bantuan dan manfaat pensiun benar-benar diterima oleh pihak yang berhak.
Di balik kisah yang mengejutkan tersebut, terdapat persoalan serius tentang kematian yang tidak dilaporkan, tanggung jawab keluarga, dan pentingnya sistem administrasi yang dapat memastikan keberadaan warga.
Peristiwa yang terungkap pada 2010 itu menjadi salah satu kasus yang memperlihatkan bagaimana sebuah rahasia keluarga dapat bertahan selama puluhan tahun sebelum akhirnya terbongkar.








